Berapa Kali Khatam Al-Qur’an menurut Sunnah?


Komunitas ODOJ pasti sudah tak asing lagi di telinga kalian. Dengan visi mulianya, ODOJ sudah mendunia. Komunitas senada, One Juz Indonesia, juga dibangun. Meski masih belia, dengan visi yang hampir sama, yaitu membumikan Al-Qur’an, mencipta generasi cinta Al-Qur’an. Mereka punya satu tujuan. Membiasakan anggotanya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sebulan. Dengan system terpopulernya, membaca satu hari satu juz (one day one juz), setidaknya anggotanya sudah khatam Al-Qur’an satu kali dalam sebulan. Kalian dah berapa kali khatam Al-Qur’an?

“dah khatam per tiga hari sekali”, kereen. “khatam seminggu sekali”, baguus. “khatam setahun sekali, pas bulan Ramadlan”, uupss, sungguh terlalu. “khatam tiap hari”, ajiib.

Kita baca Al-Qur’an, berlomba-lomba khatam Al-Qur’an bukan untuk mencari siapa yang paling hebat, paling sering khatam Al-Qur’an. Tapi kita membaca Al-Qur’an tidak hanya sekedar baca rangkaian hehuruf arab. Tapi membaca dengan tartil, dengan mentadabburinya, merenungkan makna-makna yang terkandung di setiap ayatNya. Dan yang pasti mengkhatamkan Al-Qur’an dengan cara yang dicontohkan nabi. Bukankah kurang afdhal jika kita tak mendapatkan fadhilahnya secara sempurna?

So, berapa kali khatam Al-Qur’an yang disunnahkan Nabi Muhammad saw? Okey, lanjutkan bacanya ya.

Menurut An-Nawawi, boleh sesering apapun kita khatamkan Al-Qur’an. Kesanggupan tiap orang berbeda-beda, tergantung kemampuan tartil dan tajwidnya, kemampuan memahami dan mentadaburinya, tergantung kesibukan beramal shalih lainnya.

Bisa khatam sehari semalam, boleh. Mau khatam sepekan sekali, boleh juga. Mau khatam dalam tiga hari, juga boleh. Jangan sampai karena sibuk ngejar khataman baca Al-Qur’an, tugas lain terabaikan. Amal shalih lain tertunda. Sholat wajib tidak lagi ontime. Wah gak baik kalau begini ceritanya.

Rasulullah saw pernah menghasung Ibnu Umar untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 7 hari. Sebagian ulama berpendapat, durasi khatam Al-Qur’an dalam 7 hari itu yang paling afdhal. Tetapi jika seseorang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an lebih cepat itu lebih baik. Kenapa? Karena membaca Al-Qur’an merupakan pintu kebaikan. Bukankah kita dihasung tuk berlomba-lomba memperbanyak amal baik, menabung ganjaran, mencari bekal timbangan kebaikan?

Tunggu kapan lagi mau khatamin Al-Qur’an?

Ref: al-mausu’ah al-fiqhiyyah, Al-Burhan fie ulumil qur’an

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s