Sejarah Al-Qur’an


005

ZAMAN NABI MUHAMMAD

  • Wahyu turun
  • Para shahabat menulis dari Nabi, sebagian mereka menulis berdasarkan perintah beliau, salah satunya adalah Zaid bin Tsabit, dan sebagian karena inisiatif sendiri
  • Penulisan Al-Qur’an belum disatukan dan surah-surah yang ada belum tersusun, tapi sudah ada instruksi dari Nabi kepada penulisny tentang letak ayat pada setiap surat.

ZAMAN ABU BAKAR

  • Karena banyak pengahafal al-Qur’an yang wafat dalam peristiwa al-Yamama
  • Khawatir bila Al-QUr’an akan musnah bila terjadi hal serupa di peperangan lain, maka fragmentasi Al-Qur’an dikumpulkan dan disusun dalam satu jilid besar (master volume).
  • Dipilihlah Zaid bin Tsabit dalam pengumpulan Al-Qur’an, karena sejak usia muda, dia diberi keistimewaan tinggal bersama Nabi Muhammad dan bertindak sebagai salah seorang penulis wahyu yang sangat cemerlang
  • Kompilasi Al-QUr’an disimpan dalam arsip kenegaraa dibawah pengawasan Abu Bakar

ZAMAN UMAR BIN KHATHTHAB

  • Adanya kemenangan yang menentukan, kekuasaan Umar diwarnai pengembangan Al-Qur’an dan mendorong kemajuan pendidikan Islam secara pesat melintasi batas semenanjung Arab
  • Beliau mengutus sekurang-kurangnya sepuluh shahabat ke Bahsra guna mengajarkan Al-Qur’an, demikian pula ia mengutus Ibnu Mas’ud ke Kufah.
  • Pemerintahan Umar telah mengembangkan sekolah-sekolah untuk menghafal Al-Quran di dua negri padang pasir kering dan tanah bulan sabit yang subur dan kaya.

ZAMAN UTSMAN BIN AFFAN

  • Umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Al-Qur’an diajarkan dengan dialek masing-masing.
  • Akibatnya terjadi perbedaan dalam menyebutkan huruf AL-Qur’an dan mulai menampakkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.
  • Karena faktor perselisihan inilah, maka Utsman mengupayakan agar mushaf yang pernah di nasakh Zaid bin Tsabit diperbanyak.
  • Mushaf-mushaf tersebut dikirim ke segala penjuru.
  • Sedang mushaf yang tidak dinasakh Zaid bin Tsabit dibakar atas kesepakatan semua shahabat, seperti mushaf Ibnu Mas’ud.

ZAMAN ALI BIN ABI THALIB

  • Ketika ada salah seorang yang membaca tapi keliru dalam harakat, maka salah satu tabi’ie (yaitu Abul Aswad Ad-Da’ili) diperintah Ali bin Abi Thalib untuk memberikan harakat pada Al-Qur’an.
  • Berlanjut diberi titik pada Al-Qur’an oleh Khalil bin Ahmad Al-Farahidi.
  • Akhir abad ketiga, Al-Qur’an lengkap dengan nama-nama surat di awal setiap surat sebagai tanda pemisah, juga tanda pembatas pada setiap ayat. Pada abad ini juga, AL-Qur’an mulai dibagi 30 juz, 60 bagian (hizb), dll sebagaimana yang biasa dilihat sekarang.

Ref : lampiran Al-Qur’an Qomari dan berbagai sumber

 

special for One Juz Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s