Fiqih Qurban,,,, -selayang pandang-


dp-bbm-idul-adha-1
Assalamualaikum Ikhwah fillah…,,
Okey,,, pada kesempatan kali ini crew FAII akan kembali menebarkan wawasan diniyyah untuk ikhwah semua.
Bahasan kali ini adalah fiqih QURBAN. Bumi pertiwi kita, Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tak pernah melewatkan momen “menyembelih hewan Qurban” pada hari Iedul Adlha, tul nggak?! Tapi….,, apakah semua muslim di sekeliling kita sudah paham betul hal-hal yang berkaitan dengan “UDLHIYYAH (QURBAN)”?
Untuk menambah pemahaman dan wawasan muslimin semua, disini kami menyajikan “Fiqih Udlhiyyah”, semoga memberi manfaat untuk kita semua… let’s go to!!
1. Definisi “الأضحية”
الأضحية dan الضحية adalah sebutan untuk onta, sapi, serta kambing yang disembelih pada hari Nahr dan hari-hari Tasyriq, sebagai wujud pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.
2. Hukum Udlhiyah
Menyembelih hewan qurban hukumnya adalah sunnah muakkad, berdasarkan dalil-dalil berikut:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَ انْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ (3)
(الكوثر : 2).
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah memberimu telaga Kautsar (1) Maka tegakkanlah shalat dan sembelihlah (2) Sesungguhnya orang yang mencelamu adalah orang yang terputus (dari kebaikan). (Surat AL-Kautsar:1-3).

3. Waktu Penyembelihan
Penyembelihan hewan qurban dimulai setelah penunaian shalat Iedul Adlha sampai tiga hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzul-Hijjah), berdasarkan hadits berikut:
عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ – : ( إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِيْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ ، فَمَنْ فَعَلَ هَذَا فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَ مَنْ نَحَرَ قَبْلَ ذلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لأَِهْلِهِ ، لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ ). أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ
Artinya:
Dari Al-Barra` bin ‘Azib, dia berkata: Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Sesungguhnya pertama kali yang kita mulai pada hari kita ini (Ied) adalah bahwasanya kita menegakkan shalat, kemudian kita pulang lalu menyembelih qurban. Barang siapa yang melakukan hal demikian maka dia telah menunaikan sunnah. Dan barang siapa yang menyembelih qurban sebelum itu, maka sesungguhnya itu hanyalah daging yang dia berikan kepada keluarganya, dan tidak termasuk qurban. HR. Al-Bukhari dan Muslim
4. Tempat Penyembelihan
Menurut sunnah, lebih baik penyembelihan qurban dilakukan di tanah lapang atau mushalla (tempat penunaian shalat Ied). Dengan demikian, orang-orang fakir dapat turut menyaksikannya dan mereka juga mendapatkan pembagian daging qurban, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat berikut:
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَ يَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Artinya:
Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, dia mengkabarinya, dia berkata: adalah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dan berqurban di mushalla (tempat shalat Ied). HR. Bukhari

5. Cara Penyembelihan Qurban
 Kambing = dibaringkan di atas tanah dan diinjak lambungnya
 عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِيْ سَوَادٍ وَ يَبْرُكُ فِيْ سَوَادٍ وَ يَنْظُرُ فِيْ سَوَادٍ ، فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ ، فَقَالَ لَهَا : يَا عَائِشَةُ هَلُمِّيْ الْمُدْيَةَ ، ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيْهَا عَلَى حَجَرٍ ، فَفَعَلَتْ ، ثُمَّ أَخَذَهَا وَ أَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ وَ أَبُوْ دَاوُد
Artinya:
Dari ‘Aisyah, bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dengan kambing kibas yang bertanduk, menginjak pada sesuatu yang hitam (kakinya berwarna hitam), menderum di atas sesuatu yang hitam (perutnya berwarna hitam), dan melihat pada sesuatu yang hitam (matanya berwarna hitam). Maka didatangkan dengannya supaya menyembelihnya, lalu beliau berkata kepadanya(‘Aisyah): wahai ‘Aisyah, datangkanlah pisau besar! Kemudian beliau bersabda: tajamkanlah pada batu!, lalu dia melakukannya, kemudian beliau mengambilnya (pisau) dan mengambil kambing tersebut, kemudian beliau membaringkannya lalu menyembelihnya, lantas beliau berdoa,”Dengan nama Allah, terimalah dari Muhmammad dan keluarganya dan juga umatnya”, lau beliau menyembelihnya. HR. Imam Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud
 عَنْ أَنَسٍ قَالَ : ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقَرْنَيْنِ ، فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَيْهِ عَلَى صِفَاحِهِمَا ، يُسَمِّيْ وَ يُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ . رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ
Artinya:
Dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing kibas yang berwarna putih-hitam yang bertanduk. Maka aku melihat beliau meletakkan kedua kaki beliau di atas lambung kambing tersebut, lalu beliau membaca basmalah dan bertakbir kemudian menyembelih keduanya. Telah meriwayatkannya Al-Jama’ah
 Onta dan Sapi = dalam keadaan berdiri dan kaki kirinya ditali
عَنْ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّهُ أَتَى عَلَى رَجُلٍ قَدْ أَنَاخَ بَدَنَتَهُ يَنْحَرُهَا، فَقَالَ: ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً سُنَّةَ مُحَمَّدٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya:
Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya dia mendatangi seorang laki-laki yang menderumkan ontanya untuk disembelih, lalu dia berkata: bangunkan ia dalam keadaan berdiri dan ditali kakinya, (sebagaimana) sunnah Muhammad. HR. Muttafaq ‘alaih
 Menggunakan alat yang tajam
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha di atas.
6. Doa Ketika Menyembelih Qurban
 بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلاَنٍ (nama orang yang berqurban).
 وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَ مَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِيْنَ ، إنَّ صَلاَتِيْ وَ نُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ لَكَ عَنْ فُلاَنٍ (nama orang yang berqurban).
Doa pertama tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah yang telah lewat di atas, sedangkan doa kedua berdasarkan hadits berikut:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ : ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ عِيدٍ بِكَبْشَيْنِ ، فَقَالَ حِيْنَ وَجَّهَهُمَا : وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَ مَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِيْنَ ، إنَّ صَلاَتِيْ وَ نُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ لَكَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَ أُمَّتِهِ.
Artinya:
Dari Jabir (r.a), dia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing kibas pada hari Ied (Adlha), maka beliau berdoa ketika menghadapkan keduanya,” Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam keadaan condong, dan tidaklah aku dari kalangan orang yang menyekutukan. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri. Ya Allah, (ini) dari-Mu dan untuk-Mu, dari Muhammad dan umatnya.
7. Macam-macam Hewan Qurban
 Onta
 Sapi Jadza’ah dan Musinnah
 Kambing
Hal tersebut sebagaimana tertera pada riwayat-riwayat berikut:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ -: لاَ تَذْبَحُوْا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوْا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ . رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إِلاَّ الْبُخَارِيُّ وَ التِّرْمِذِيُّ .
Artinya:
Dari Jabir radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah kecuali jika hal tersebut sulit bagi kalian, maka kalian boleh menyembelih jadza’ah dari domba. HR. Jama’ah kecuali Imam Bukhari dan Tirmidzi
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ – يَقُولُ : نِعْمَ – أَوْ نِعْمَتْ – اْلأُضْحِيَّةُ الْجَذَعُ مِنْ الضَّأْنِ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ التِّرْمِذِيُّ .
Artinya:
Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” sebaik-baik qurban adalah jadza’ah dari domba”. HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi

8. Jenis-jenis Cacat pada Hewan Qurban
Hewan yang akan disembelih harus terhindar dari cacat-cacat sebagai berikut:
 Salah satu matanya cacat (buta)
 Pincang
 Berpenyakitan
 Tidak punya otak karena sangat kurus
 Belah telinganya atau pecah tanduknya
Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Barra` berikut:
عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ -: أَرْبَعٌ لاَ تَجُوْزُ فِيْ اْلأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَ الْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَ الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا، وَ الْكَسِيْرُ الَّتِي لاَ تُنْقِي . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَ صَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ .
Artinya:
Dari Barra` bin ‘Azib, dia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” empat hal yang tidak boleh pada binatang qurban: yang cacat salah satu matanya dengan kecacatan yang jelas, yang berpenyakitan dengan jelas penyakitnya, yang pincang dengan kebengkokan yang jelas, dan pecah tanduknya yang tidak mengeluarkan sumsum. HR. Lima Imam Hadits dan At-Tirmidzi menshahihkannya.
9. Pembagian Daging Qurban
Daging qurban boleh dimakan sendiri, disedekahkan, dihidangkan untuk para tamu, atau disimpan oleh orang yang berqurban. Namun, ulama menyatakan bahwa lebih afdlalnya adalah:
 1/3 Dimakan sendiri
 1/3 Disedekahkan
 1/3 Disimpan
Dalam memanfaatkan daging qurban ini, Rasulullah menghasungkan umat beliau untuk berbagi kepada sesama.
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ – :كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُوْمِ اْلأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلاَثَةٍ لِيَتَّسِعَ ذَوُوْ الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَ أَطْعِمُوا وَ ادَّخِرُوا . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ وَ التِّرْمِذِيُّ .
Artinya:
Dari Buraidah, dia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : adalah aku dulu melarang kalian untuk (menyimpan) daging kurban di atas tiga hari supaya orang yang kaya melapangkan atas orang yang tidak kaya, maka (sekarang) makanlah apa yang ada pada kalian dan berilah makan dengannya serta simpanlah. HR. Imam Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi.
Ulama menyatakan bahwa larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyimpan daging qurban disebabkan adanya kesempitan yang menimpa suatu kaum pada saat itu, sehingga Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk membagi daging qurban kepada mereka dan tidak menyimpannya. Namun, pada tahun sesudahnya, beliau membolehkan para shahabat untuk menyimpan daging qurban mereka lebih dari tiga hari. Dengan demikian, larangan tersebut dihapus, sehingga penyimpanan daging qurban lebih dari tiga hari boleh, wallahu a’lam.
10. Hal-hal yang Harus Dijauhi oleh Orang yang Berqurban
 Memotong rambut dan kuku
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ – قَالَ : إذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَ أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَ أَظْفَارِهِ . رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلاَّ الْبُخَارِيَّ .
Artinya:
Dari Ummu Salamah bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: apbila kalian melihat hilal Dzul-hijjah dan kalian hendak berqurban, maka hendaklah dia menahan rambut dan kuku-kukunya.
HR. Jama’ah kecuali Al-Bukhari
 Menjual daging qurban (dan segala sesuatu yang terkandung pada hewan qurban tersebut)
 Memberi upah pada orang yang menyembelihkan hewan qurban untuknya
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: أَمَرَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ – أَنْ أَقُوْمَ عَلَى بُدْنِهِ وَ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِلُحُوْمِهَا وَ جُلُوْدِهَا وَ أَجِلَّتِهَا وَ أَنْ لاَ أُعْطِيَ الْجَازِرَ مِنْهَا شَيْئًا، وَ قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya:
Dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata: Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku supaya aku mengurusi atas onta beliau (dalam penyembelihan) dan aku mensedekahkan dagingnya, kulit-kulitnya, dan pakaiannya, dan supaya aku tidak memberi sesuatu pun kepada tukang jagal, dan beliau bersabda,” kami memberinya dari sisi kami sendiri. Muttafaq ‘alaih
11. Bolehkah berserikat dalam berqurban?
Para Ulama menyatakan bahwa berserikat dalam berqurban itu boleh, dengan syarat sebagai berikut:
 Hewan qurban berupa onta atau sapi
 Seekor sapi 7 orang
 Seekor onta 7 atau 10 orang
Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Ibnu ‘Abbas berikut:
a. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ ، فَحَضَرَ النَّحْرَ ، فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ سَبْعَةٌ ، وَ فِي الْبَعِيرِ عَشَرَةٌ . أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ .
Artinya:
Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: adalah kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu perjalanan, kemudian tiba hari Nahr, maka kami berserikat pada seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor onta untuk sepuluh orang. HR. AT-Tirmidzi
b. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ ، فَحَضَرَ النَّحْرَ ، فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ سَبْعَةٌ ، وَ فِي الْبَعِيرِ سَبْعَةٌ أَوْ عَشَرَةٌ. أَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانٍ .
Artinya:
Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: adalah kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu perjalanan, kemudian tiba hari Nahr, maka kami berserikat pada seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor onta untuk tujuh atau sepuluh orang. HR. Ibnu Hibban

spanduk-qurban-100x200

12. Apakah satu kambing dapat mencukupi untuk seluruh anggota keluarga?
Ulama Al-Lajnah Ad-Da-imah memfatwakan bahwa hal ini boleh, sebab masalah ini berbeda dengan masalah “berserikat dalam berqurban”. Pada masalah ini, anggota keluarga tidak dinyatakan sebagai “orang yang berqurban”, akan tetapi mereka berserikat dalam pahala qurban. Hal ini sebagaimana juga dengan pernyataan Syaikh Ibnu Baz dalam kitab fatawa beliau:
مَجْمُوْعُ فَتَاوَى ابْنِ بَاز (18 / 38)
مِنْ أَحْكَامِ اْلأُضْحِيَّةِ
س : اْلأُضْحِيَّةُ هَلْ هِيَ لِلأُسْرَةِ كَكُلٍّ أَمْ لِكُلِّ فَرْدٍ فِيْهَا باَلِغٌ ، وَ مَتَى يَكُوْنُ ذَبْحُهَا ؟ وَ هَلْ يُشْتَرَطُ لِصَاحِبِهَا عَدَمُ أَخْذِ شَيْءٍ مِنْ أَظَافِرِهِ وَ شَعْرِهِ قَبْلَ ذَبْحِهَا ؟ وَ إِذَا كَانَتْ لاِمْرَأَةٍ وَ هِيَ حَائِضٌ مَا الْعَمَلُ ؟ وَ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ اْلأُضْحِيَّةُ وَ الصَّدَقَةُ فِيْ مِثْلِ هذَا اْلأَمْرِ ؟ أَفِيْدُوْنَا جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا.
ج : اْلأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ ، تُشْرَعُ لِلرَّجُلِ وَ الْمَرْأَةِ وَ تُجْزِئُ عَنِ الرَّجُلِ وَ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَ عَنِ الْمَرْأَةِ وَ أََهْلِ بَيْتِهاَ ؛ لأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يُضَحِّيْ كُلَّ سَنَةٍ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْهُ وَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَ الثَّانِي عَمَّنْ وَحَّدَ اللهَ مِنْ أُمَّتِهِ . و وَقْتُهَا يَوْمَ النَّحْرِ وَ أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ، وَ السُّنَّةُ لِلْمُضَحِّيْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا ، وَ يُهْدِيَ لأَِقَارِبِهِ وَ جِيْرَانِهِ مِنْهَا ، وَ يَتَصَدَّقُ مِنْهَا ، . . . .
Artinya:
(Kitab) Majmu’ Fatawa Ibni Baaz (18/ 38)
Hukum-hukum Sembelihan (Qurban)
Soal: Udlhiyah itu apakah untuk anggota keluarga semuanya ataukah untuk setiap diri yang baligh, dan kapan penyembelihannya? Apakah disyaratkan untuk pelakunya agar tidak mengambil/ memotong kuku-kuku dan rambutnya sebelum menyembelih? Apabila untuk wanita sedangkan dia dalam keadaan haidl, apa yang harus dia lakukan? Apa perbedaan antara Qurban da Shadaqah pada perkara semisal ini? berikanlah manfaat pada kami, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.
Jawab: Udlhiyah itu sunnah mu’akkad, disyariatkan atas laki-laki dan perempuan. Dan mencukupi bagi seorang laki-laki dan keluarganya, sebab nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua kambing hitam-putih yang bertanduk setiap tahun, salah satunya untuk beliau dan keluarga beliau dan satunya lagi untuk orang yang mentauhidkan Allah dari kalangan umat beliau. Dan waktunya adalah pada hari Nahr dan Hari-hari Tasyriq setiap tahun. Dan disunnahkan untuk orang yang berqurban untuk memakan dari sembelihannya, menghadiahkan kepada para kerabat dan tetangganya, serta mensedekahkannya, … .
13. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan sekolah-sekolah mngadakan qurban bersama, padahal satu sapi/onta hanya mencukupi untuk 7 orang saja?
Berqurban satu onta/sapi untuk lebih dari 7/ 10 orang tidak sah. Akan tetapi, hal tersebut bisa dikatakan sebagai shadaqah serta sebagai pengajaran bagi murid-murid akan pensyariatan menyembalih hewan qurban bagi setiap muslim, sebagaimana yang difatwakan oleh para ulama kontemporer, wallahu a’lam.

Surakarta, Dzul-Hijjah 1436
Bumi yang Diberkahi

Iklan

Satu pemikiran pada “Fiqih Qurban,,,, -selayang pandang-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s