FIQH PUASA UNTUK WANITA


 

ramadhan

PRESENT BY: Layla Kholid
Muqaddimah
Puasa merupakan ibadah menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari, dengan disertai niat.
Adapun puasa ramadlan wajib atas setiap wanita yang berakal, baliq, suci dari haid dan nifas.
• Syarat sah puasa Ramadlan bagi wanita:
-suci dari haid dan nifas
-berniat untuk puasa sejak malam hari
Niat untuk melaksanakan puasa wajib harus sudah dicanangkan sebelum terbit fajar. Niat ini tidak perlu dilafalkan dalam bentuk ucapan lisan, melainkan cukup dengan kesadaran dan keinginan dalam hati untuk melakukan puasa.
عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّـمَ قَالَ « مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ ». (رواه ابو داود)
Artinya:
Hafshah istri Nabi menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (H.R. Abu Daud)

B. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
Ada dua jenis pembatal puasa, dilihat dari konsekuensi yang ditimbulkannya, yaitu pembatal puasa yang menyebabkan pelaku harus mengqadha’ (membayar dengan puasa di hari lain) dan pembatal puasa yang mengharuskan orang untuk menggantinya dengan qadha’ dan kaffarah (tebusan) sekaligus.
1. Pembatal Puasa yang Mewajibkan Qadla`:
1.1 Makan dan Minum dengan Sengaja (Termasuk Bersengaja Berbuka)
Berniat untuk berbuka, meskipun tidak jadi melakukannya. Hal ini membatalkan puasa karena niat merupakan salah satu rukun puasa.
1.2 Muntah dengan Sengaja
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ « مَنْ ذَرَعَهُ الْقَىْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيقْضِ » (رواه الترمذى)
Artinya:
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak kuasa menahan muntah, maka tidak ada kewajiban qadha’ untuknya. Dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, hendaklah dia mengqadha’.” (H.R. Tirmidzi)

1.3 Haid dan Nifas
Wanita yang sedang haid atau nifas haram berpuasa. Meskipun darah haid itu baru keluar diwaktu yang dekat sebelum adzan, puasa batal.
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ « أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا » (رواه البخارى)
Artinya:
Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah apabila sedang haid, wanita tidak shalat dan tidak puasa? Maka itulah kekurangan din-nya.” (H.R. Bukhari)
a) Apabila keluar darah lagi setelah bersuci:
– Bersuci sebelum hari haid biasanyaDihukumi sebagai darah haid (puasa batal).
– Bersuci setelah berhentinya darah sesuai hari haid biasanyatidak boleh membatalkan puasa karena ini dihukumi sebagai darah istihadlah atau merupakan ganguan dari setan.
b) Hukum mengkonsumsi obat penghambat haid:
Sebagian ulama berpendapat bahwa mengkonsumsi obat penghambat haid itu makruh karena dapat menyebabkan madlarat. Selain itu, haid merupakan ketetapan dari Allah SWT untuk kemaslahatan wanita.
c) Hukum istihadlah
Wanita istihadlah itu dihukumi sebagai orang suci. Oleh karena itu, dia wajib sholat dan puasa.
1.4 Bersengaja mengeluarkan mani (baik dengan tangan sendiri maupun dengan bantuan suami / istri)
•Catatan:
 Seseorang yang junub di pagi bulan Ramadhan boleh mengakhirkan mandinya hingga terbit fajar, dan puasanya tetap sah.
 Boleh makan, minum, dan melakukan hubungan suami-istri di malam Ramadhan, hingga terbit fajar. Jika fajar sudah terbit, sedang makanan masih di mulut, maka wajib untuk dikeluarkan. Begitu pula dengan jimak, harus segera dihentikan begitu diketahui fajar telah terbit. Apabila hal itu diteruskan, maka puasanya menjadi batal.
2. Pembatal Puasa yang Mewajibkan Qadla` dan Kaffarah (Denda)
Hubungan suami istri (jima’) disiang hari bulan ramadlan merupakan satu-satunya perbuatan yang membatalkan puasa dan mengharuskan pelakunya untuk mengqadha’ sekaligus membayar kaffarah.

C. Hal-Hal yang Boleh Dilakukan oleh Orang yang sedang Berpuasa
1. Bercumbu Rayu selain Jima’
Bercumbu rayu antara suami istri boleh dilakukan ketika sedang berpuasa, selama tidak berlanjut sampai jimak. Apabila sampai keluar mani, puasa batal dan wajib mengqadla’.
2. Mandi/berendam (untuk mendingginkan kepala)
3. Berkumur ( التمضمض / الاستنشاق ) termasuk juga bersikat gigi
Berkumur boleh dilakukan oleh orang yang sedang puasa dengan syarat tidak tertelan(termasuk juga menggosok gigi).
4. Berhias
Berhias/berdandan seperti bercelak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang berpuasa dengan syarat tidak menyelisihi syariat seperti menggerik alis, berlipstik.
5. Bercantuk, donor darah, cuci darah
Bercantuk boleh dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa bila yakin tidak lemas.
6. Mencicipi makanan ketika masak atau memamahkan makanan untuk anak
Mencicipi makanan boleh dilakukan sekedar keperluan, selama tidak sampai tertelan.
7. Muntah tanpa sengaja
8. Makan atau minum karena lupa
D. Kondisi yang Mengarahkan Seorang antara Dua Pilihan, Puasa/Berbuka (Al-Baqarah: 184)
1. Ketika sakit
– Sakit yang memayahkan dan membinasakan/ memadharati (disertai informasi dari dokter yang dapat dipercaya)tidak boleh berpuasa, wajib qadla’. Namun, Untuk sakit menahun, dan sulit diharapkan kesembuhannya, cukup dengan membayar fidyah.
– Sakit yang memayahkan akan tetapi tidak memadharati  boleh tidak berpuasa, wajib qadla’
– Sakit yang tidak membahayakan dan tidak memayahkan seperti flu ringan, pusing ringan, sakit gigi, dll tidak boleh berbuka
2. Ketika safar
Orang yang bersafar boleh tidak berpuasa, namun wajib mengqadla’.
– seorang itu dikatakan musafir ketika menenpuh perjalanan yang memerlukan bekal untuk safar tersebut.
•Lebih baik berbuka atau tetap berpuasa?
– Apabila safar itu memayahkan puasa dan menghalangi dari kebaikanLebih baik berbuka
– Apabila safar itu tidak memayahkan dan tidak menghalanginya dari kebaikanboleh berbuka, namun lebih baik berpuasa
– Apabila safar itu memayahkan dan bahkan memadlaratinya jika berpuasaWajib berbuka
3. Ketika sudah tua renta
Apabila tidak mampu berpuasa, seorang yang sudah tua renta yang tidak dapat diharapkan lagi untuk berpuasa boleh tidak berpuasa, cukup membayar fidyah.
4. Ketika hamil atau menyusui
Wanita hamil atau wanita menyusui apabila tidak mampu berpuasa atau khawatir memdlarati janin atau bayi yang dia susui boleh tidak puasa, cukup membayar fidyah.
E. Cara Mengganti Puasa
Mengganti puasa dengan qadla’:
• Mengganti puasa dengan qadla’ yaitu dengan berpuasa pada hari-hari lain selain bulan Ramadlan( hari: tidak harus langsung pada bulan syawwal boleh pada hari-hari bulan lain selain bulan Ramadlan dan juga tidak harus berturut-turut seperti puasa pada bulan Ramadlan).
• Membayar utang puasa terlebih dahulu atau langsung puasa sunnah 6 hari bulan syawwal?
Boleh langsung berpuasa sunnah 6 hari syawwal tanpa harus mengqadla` dahulu. Akan tetapi lebih baik mengqadla` dahulu kemudian puasa sunnah 6 hari syawwal, karena Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ . ( اخرجه مسلم )
Artinya:
Dari Abi Ayyub Al-Anshari telah menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah bersabda: ”Barang siapa yang telah berpuasa bulan Ramadlan kemudian menggikutinya 6 hari dari bulan Syawwal sungguh dia mendapat pahala seperti pahala puasa selama satu tahun”
Mengganti dengan fidyah:
• Memberi satu porsi makan kepada satu orang miskin (komplit nasi, sayur dan lauknya) atau berupa bahan mentah berupa makanan pokok sebanyak ½ sho’ (kira-kira 1 liter) sebagai ganti puasa satu hari.
• Fidyah wajib ditunaikan oleh orang yang menanggung nafkah, seperti bapak sibayi.
• Fidyah boleh ditunaikan setelah bulan Ramadlan dan tidak boleh didahulukan sebelum datangnya puasa bulan Ramadlan.
Mengganti dengan kaffarah
-Memerdekakan budak, bila tidak mampu
-Berpuasa berturut-turut selama 2 bulan penuh, bila tidak mampu
-Memberi makan orang miskin 60 sho’

F. Etika Puasa Ramadlan:
1. Niat untuk berpuasa
Niat untuk melaksanakan puasa wajib harus sudah dicanangkan sebelum terbit fajar. Niat ini tidak perlu dilafalkan dalam bentuk ucapan lisan, melainkan cukup dengan kesadaran dan keinginan dalam hati untuk melakukan puasa.
عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ ». (رواه ابو داود)
Artinya:
Hafshah istri Nabi menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (H.R. Abu Daud)
2. Sahur
3. Menjahui perbuatan-perbuatan tercelah yang dapat menggugurkan pahala puasa, seperti perkataan keji, senonoh, bohong, sia-sia dan lainnya yang diinkari oleh agama
4. Banyak tilawah Alqur`an (membaca sambil mendalami makna dan maksudnya)
5. Banyak sholat malam
6. Banyak berdo`a
Dalil-dalil
 Dalil ruhshah untuk berbuka bagi orang yang tidak mampu berpuasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَـ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) [البقرة : 183 ، 184]
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana hal itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertakwa. (Yaitu) selama beberapa hari yang terhitung. Maka barangsiapa di antara kalian yang sakit, atau sedang dalam safar, hendaklah dia menghitung gantinya di hari-hari lain. Dan wajib atas orang-orang yang (tidak) kuat berpuasa untuk membayar fidyah berupa makanan (yang diberikan) kepada satu orang miskin. Maka barangsiapa yang menambahkan kebaikan, hal itu lebih baik baginya. Dan bahwasanya kalian berpuasa itu lebih baik buat kalian, jika kalian mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 183-184)
 Dalil tidak ada qadla’ bagi orang yang lupa makan\minum ketika berpuasa:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ .ـ رواه مسلم

Artinya:
Dari Abi Hurairah radiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda:”barangsiapa yang lupa dan dia sedang berpuasa lalu makan atau minum, hendaklah dia menyempurnakan (meneruskan) puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan memberinya minum. (H. R. Muslim)
 Dalil jima’ mewajibkan kaffarah beserta cara kaffarah:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُولَ الله قَالَ « وَمَا أَهْلَكَكَ ». قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى فِى رَمَضَانَ. قَالَ « هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً ». قَالَ لاَ. قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ ». قَالَ لاَ. قَالَ « فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ». قَالَ لاَ – قَالَ – ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِىَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ. فَقَالَ « تَصَدَّقْ بِهَذَا ». قَالَ أَفْقَرَ مِنَّا فَمَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا. فَضَحِكَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ » (رواه مسلم)
Artinya:
Abu Hurairah berkata: Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia mengatakan, “Celaka aku wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu celaka?” Laki-laki itu menjawab,”Aku menggauli istriku di (siang hari) bulan Ramadhan.” Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta untuk memerdekakan budak?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu bisa berpuasa dua bulan berturut-turut?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Beliau kembali menanyakan, “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak.” Kemudian dia duduk. Setelah itu didatangkan kepada Rasulullah sekarung kurma. Rasulullah pun mengatakan, ”Bersedekahlah dengan kurma ini.” Dia mengatakan, “Apakah aku harus memberikannya kepada orang yang lebih fakir dari kami? Sungguh tidak ada di antara dua bukit Madinah penghuni rumah yang lebih banyak kebutuhannya daripada keluarga kami.” Nabi pun tertawa hingga nampaklah gigi-gigi taringnya. Kemudian kata beliau, “Pergilah, lalu berikan ini untuk makan keluargamu.” (H.R. Muslim)

وَ الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ بِنِعْـمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
جَعَـلَ اللَّهُ هذا خَالِصًا لِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَنَفَـعَ بِهِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ
إنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ .

Surakarta, 28 Sya’ban 1435 H / 26 Juni 2014 M

Layla Mushthafa Khalid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s