HUKUM MENGHADIAHKAN PAHALA MEMBACA AL-QUR`AN UNTUK ARWAH MUSLIMIN


LATAR BELAKANG MASALAH
Menghadiahkan pahala membaca Al-Qur`an untuk arwah muslimin merupakan hal yang diperselisihkan di kalangan ulama dan masyarakat Islam khususnya di Indonesia. Sebagian kalangan mengamalkannya, karena berkeyakinan bahwa amalan ini merupakan sunnah yang sepantasnya untuk diamalkan. Sebagian yang lain tidak mengamalkannya karena beranggapan bahwa menghadiahkan pahala membaca Al-Qur`an untuk arwah muslimin itu merupakan amalan bid’ah.
DALIL-DALIL
1. Surat An-Najm(53): 38-39:
(Bahwasanya orang yang berdosa tidaklah menanggung dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tidaklah mendapat (balasan) kecuali dari apa yang ia usahakan).
Makna Ayat: Setiap orang yang melakukan dosa hanya akan menanggung dosanya sendiri dan setiap orang hanya akan mendapat pahala dari amalannya sendiri.
Analisis:
a) Surah An-Najm ayat 38 dan 39 ini ditakhsis dengan surah Ath-Thur ayat 21.
b) Surat An-Najm ayat 39 ini menjadi dalil tidak sampainya penghadiahan pahala seseorang kepada orang lain.
2. Surat Ath-Thur (52) : 21:
(Dan orang-orang yang beriman sedangkan anak cucu mereka mengikutinya dalam keimanan, Kami akan mempertemukan mereka dengan anak cucu mereka dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikit pun).
Makna Ayat: Allah akan mempertemukan orang-orang beriman dalam satu tingkatan dengan anak cucu mereka yang juga beriman, tanpa mengurangi pahala mereka.
Analisis:
a) Surah Ath-Thur ayat 21menjadi takhsis untuk Surah An-Najm ayat 38 dan 39.
b) Orang beriman bisa mendapat balasan kebaikan yang bukan dari amalannya sendiri.
3. Surat Al-Hasyr (59) : 10
(Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) berkata “Wahai Pemelihara kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki kepada orang-orang beriman. Wahai Pemelihara kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang).
Makna Ayat: Ayat ini menjelaskan salah satu sifat orang-orang beriman yang hidup setelah Muhajirin dan Anshar, yaitu mereka berdoa agar diampunkan dosa mereka dan dosa saudara-saudara mereka yang lebih dahulu beriman serta berdoa agar tidak ada rasa dengki di antara sesama orang beriman.
Analisis:
a) Manfaat doa bisa sampai kepada mayit jika Allah mengijabahi, sedangkan pahala berdoa itu untuk orang yang berdoa.
b) Yang sampai kepada orang yang didoakan adalah isi doa tersebut, bukan pahala doanya. Adapun tentang qira`ah, Allah akan memberikan pahala kepada orang yang membacanya, bukan orang yang dibacakan atasnya.
Kesimpulan: Tidak ada alasan yang kuat yang menjelaskan masalah penghadiahan pahala qira`ah kepada orang yang meninggal, wallahu a’lam bish shawwab.
4. Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu tentang Putusnya Pahala Orang yang Meninggal kecuali Tiga Perkara
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ اِذَا مَاتَ اْلاِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ اِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ .
(Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalan darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang berdoa untuknya).
Makna Hadits: Amalan seseorang yang telah meninggal dunia terputus, sehingga pahalanya tidak akan bertambah, kecuali pada tiga hal yaitu sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang berdoa untuknya.
Analisis:
a) Hadits ini berderajat shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
b) Hadits Abu Hurairah ini menunjukkan bahwa doa anak untuk orang tuanya setelah meninggal itu manfaatnya dapat sampai kepada mereka.
c) Tidak ada nash tentang sampainya pahala anak membaca Al-Qur`an kepada orang tuanya yang telah meninggal.
d) Hadits ini menjadi hujah atas tidak sampainya pahala suatu amalan yang bukan berasal dari usahanya sendiri, wallahu a’lam ish shawwab.
5. Hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha tentang Seseorang yang Bersedekah atas Nama Ibunya yang telah Meninggal
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ : ( نَعَمْ ).
(Dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak. Aku menduga sekiranya (ibu) dapat berbicara dia akan bersedekah. Apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya.”).
Makna Hadits: Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan seorang anak bersedekah atas nama ibunya yang telah meninggal.
Analisis:
a) Hadits ini berderajat shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
b) Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah mengizinkan seorang anak bersedekah atas nama orang tuanya yang telah meninggal, walaupun mereka tidak berwasiat.
c) Hadits ini menjadi penakhsis Surat An-Najm ayat 39.
d) Qira`ah termasuk pada keumuman Surat An-Najm ayat 39, yaitu amal yang pahalanya kembali kepada pelakunya, sehingga hadits ini tidak dapat dijadikan hujah atas sampainya pahala suatu amalan kepada mayat,wallahu a’lam bish shawwab.
6. Hadits Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu tentang Seseorang yang Berhaji atas Nama Ibunya yang telah Meninggal
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: ((أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ اِلَى النَّبِيِّصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: ((نَعَمْ حُجِّيْ عَنْهَا ، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى اُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ ؟ اُقْضُوْا اللهَ ، فَاللهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ))
(Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ibuku pernah bernadzar untuk berhaji, namun dia belum menunaikannya sampai meninggal. Maka bolehkah aku menunaikan haji atas namanya?” Beliau bersabda, ”Berhajilah atas namanya. Apa pendapatmu jika ibumu mempunyai tanggungan hutang, apakah engkau membayarnya? Tunaikanlah (hutang kalian) kepada Allah, maka (hak) Allah lebih berhak untuk ditunaikan.”).
Makna Hadits: Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan seorang anak berhaji atas nama ibunya yang bernadzar untuk berhaji, namun tidak sempat menunaikannya sampai meninggal dunia.
Analisis:
a) Hadits ini berderajat shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
b) Tanggungan ibadah haji dapat diwakili oleh anaknya ketika seseorang terhalang untuk melakukannya.
c) Hadits ini keluar dari keumuman (penakhsis) Surat An-Najm ayat 39, sedangkan qira`ah termasuk pada keumuman Surat An-Najm ayat 39.Adapun pengiriman pahala qira`ah, tidak ada nash yang dapat digunakan untuk mengeluarkannya dari keumuman ayat ini.
d) Hadits ini tidak dapat dijadikan hujah atas sampainya pahala amalan orang lain kepada mayat, wallahu a’lam ish shawwab.
7. Hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha tentang Wali yang Menunaikan Tanggungan Puasa Mayit
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَاأَنَّ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ).
(Dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa meninggal dan masih mempunyai tanggungan puasa, maka walinya berpuasa atas namanya.”).
Makna Hadits: Hadits ini menjelaskan bahwa jika seseorang meninggal dan masih mempunyai tanggungan puasa, maka walinya menunaikan tanggungan puasa tersebut.
Analisis:
a) Hadits ini berderajat shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
b) Hadits ini menjelaskan bahwa jika seseorang meninggal padahal masih mempunyai tanggungan puasa, maka tanggungan puasa mayat itu dapat ditunaikan oleh walinya, dengan kata lain pahala puasa itu sampai kepada mayat.
c) Hadits ini keluar dari keumuman (penakhsis) Surat An-Najm ayat 39, sedangkan qira`ah termasuk pada keumuman Surat An-Najm ayat 39.
d) Hadits ini tidak dapat dijadikan hujah atas sampainya pahala suatu amalan kepada mayat,wallahu a’lam bish shawwab.
8. Hadits Ma’qil bin Yasar radliyallahu ‘anhu tentang Membacakan Surat Yasin untuk Mayit
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُاللهِ (النَّبِيَّ) صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((اِقْرَءُواْ يَس عَلَى مَوْتَاكُمْ)) .
(Dari Ma’qil bin Yasar radliyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah (Nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacakanlah Surat Yasin untuk orang-orang yang meninggal dari kalangan kalian!”)
Makna Hadits: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung umatnya supaya membacakan surat Yasin untuk orang-orang yang telah meninggal dari kalangan muslimin.
Hadits ini berderajat dla’if.
Analisis:
a) Hadits ini berderajat dla’if.
b) Hadits Ma’qil bin Yasar radliyallahu ‘anhu ini tidak berkaitan dengan penghadiahan pahala qira`ah kepada mayat, karena Nabi hanya memerintahkan untuk membaca Surat Yasin, bukan menghadiahkan pahalanya.
c) Hadits ini tidak dapat dijadikan hujah untuk penghadiahan pahala qira`ah kepada mayat, wallahu a’lam bish shawwab.
9. ATSAR ‘Ali radliyallahu ‘anhu tentang Membacakan Surat Al-Ikhlash dan Menghadiahkan Pahalanya kepada Mayat
مَنْ مَرَّ بِالْمَقَابِرِ فَقَرَأَ ( قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ ) إِحْدَى عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ اْلأَمْوَاتَ أُعْطِيَ مِنَ اْلأَجْرِ بِعَدَدِ اْلأَمْوَاتِ .
(Barangsiapa lewat di pemakaman lalu membaca قُلْ هُوَ الله اَحَدٌ (Surat Al-Ikhlas) sebelas kali, kemudian menghibahkan pahalanya kepada para mayat, dia diberi pahala sejumlah mayat yang ada).
Analisis:
a. Hadits ini adalah hadits maudlu’.
b. Hadits ini tidak dapat menjadi hujah untuk penghadiahan pahala qira`ah kepada mayat.
10. Riwayat Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhu tentang Membacakan Awal dan Akhir Surat Al-Baqarah kepada Mayat
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ قَالَ لِبَنِيْهِ إِذَا أَدْخَلْتُمُوْنِيْ قَبْرِيْ فَضَعُوْنِيْ فِى اللَّحْدِ وَقُوْلُوْا بِاسْمِ اللهِ وَعَلىَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَنُّوْا عَلَىَّ التُّرَابَ سَنًّا وَاقْرَؤُا عِنْدَ رَأْسِيْ أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَهَا فَإِنِّيْ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَحِبُّ ذلِكَ
(Dari Abdurrahman bin Al-‘Ala` bin Al-Lajlaj dari bapaknya, bahwasanya dia telah berkata kepada anak-anaknya “Apabila kalian memasukkan aku ke liang kuburku, maka letakkanlah aku dalam liang lahad, ucapkanlah Bismillah wa ‘ala sunnati Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan timbunlah aku (dengan) tanah dengan sebenar-benar penimbunan dan bacakanlah awal dan akhir Surat Al-Baqarah di sisi kepalaku, karena aku melihat Ibnu ‘Umar menyukai yang demikian itu).
Analisis:
a. Atsar ini berderajat dla’if, sehingga tidak dapat menguatkan pendapat bolehnya menghadiahkan qira`ah kepada mayat.
Kesimpulan: Berdasarkan analisis hadits-hadits di atas,tidak ada dalil yang kuat yang menjelaskan tentang penghadiahan pahala qira`ah kepada orang yang meninggal, wallahu a’lam bish shawwab.
PENDAPAT ULAMA
1. Pahala Membaca Al-Qur`an yang Dihadiahkan Sampai kepada Arwah Muslimin
Ulama yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Hanifah, Ibnu ‘Aqil, Ibnu Qudamah, Al-Qurthubi, An-Nawawi, Al-Muhib Ath-Thabari, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan Al-Albani.
Dalil ulama-ulama tersebut:
a. Hadits ‘Ali dan hadits tersebut maudlu’.
b. Hadits Ma’qil dan hadits tersebut berderajat dla’if.
c. Riwayat Ibnu ‘Umar dan riwayat tersebut berderajat dla’if.
d. Hadits Abu Hurairah dan hadits tersebutberderajat shahih. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa qira`ah termasuk dalam makna doa yang disebutkan pada hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.Al-Albani berpendapat bahwa pahala qira`ah tidak sampai kepada arwah muslimin kecuali dari anak shalih.
Kesimpulan:Tidak ada nash yang menyebutkan sampainya pahala anak yang membacakan Al-Qur`an untuk orang tuanya yang sudah meninggal. Sehingga, pendapat bahwa penghadiahan pahala qira’ah dapat sampai kepada mayat itu tidak dapat diterima, wallahu a’lam bish shawwab.
2. Pahala Membaca Al-Qur`an yang Dihadiahkan Tidak Sampai kepada Arwah Muslimin
Ulama yang berpendapat demikian adalahAsy-Syafi’i, penganut Madzhab Maliki, golongan Mu’tazilah, dan Rasyid Ridha.
Dalil ulama-ulama tersebut:
a. Surat An-Najm ayat 39.
b. Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu tentang putusnya amal seorang hamba kecuali sedekah jariah, ilmu, dan doa anak shalih. Hadits tersebutberderajat shahih.
c. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkannya. Sedangkan asal ibadah adalah batal (haram) sampai ada perintah untuk melaksanakannya sebagaimana dalam kaidah Ushul Fiqh .
Kesimpulan:
1. Surat An-Najm ayat 39 merupakan dalil bagi tidak sampainya pahala amalan seseorang kepada orang lain, dalam hal ini mayat.
2. Nash-nash yang menjelaskan dapatnya seseorang beramal atas nama orang lain merupakan penakhsis Surat An-Najm ayat 39, sehingga pahalanya dapat sampai kepada orang lain, dalam hal ini mayat.
3. Tidak ada hadits yang menunjukan sampainya pahala qira`ah, sehingga masalah ini termasuk dalam keumuman Surat An-Najm ayat 39, yaitu pahala amalan kembali kepada orang yang mengamalkannya.
4. Karena tidak ada dalil yang menyebutkan tentang penghadiahan pahala qira`ah kepada mayat, maka jika ada orang yang melakukan amalan ini, perbuatannya merupakan suatu perbuatan bid’ah yang dilarang oleh Rasulullah.Jika suatu amalan itu dilarang untuk dikerjakan, maka hukum asalnya adalah haram, sampai ada sesuatu yang memalingkannya dari asalnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum menghadiahkan pahala membaca Al-Qur`an untuk arwah muslimin adalah haram. Sehingga pendapat bahwa pahala membaca Al-Qur`an yang dihadiahkan tidak sampai kepada arwah muslimin tersebut dapat diterima, wallahu a’lam bish shawwab.
KESIMPULAN AKHIR:
 Penghadiahan pahala membaca Al-Qur`an untuk arwah muslimin adalah amalan bid’ah, maka hukumnya haram.
SARAN
 Hendaknya muslimin tidak menghadiahkan pahala membaca Al-Qur`an untuk arwah muslimin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.
 Muslimin sebaiknya banyak memohonkan ampunan dan kebaikan untuk saudara mereka yang telah meninggal, karena ulama bersepakat bahwa hal itu dapat bermanfaat bagi mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s